WAKTU DATANG KEMUDIAN WAKTU PERGI
“ Kamu bisa mengatakan itu karena Kamu tidak mengalaminya, coba kalau Kamu jadi Aku , pasti Kamu akan melakukan hal yang sama. Kamu pikir Aku ini siapa ? Batu yang nggak punya perasaan , atau patung yang hanya bisa berdiam diri. Aku juga manusia. Aku nggak kuat menahan semua ini sendirian”. Isakan tangis itu masih tidak bisa disembunyikannya , bahkan air hujan yang menetes dikepalanya tidak dirasakannya.
Malam itu gerimis mengguyur Kota, jam tanganku menunjukkan pukul 10:00. Aku yang berdiri di sebelah kanan, pas kurang lebih setengah meter dari tas kain warna hijau muda, garis – garis putih bertuliskan Elizabeth dengan satu kancing dibagian depan dan resletingnya yang terbuka kira – kira 15 cm, sehingga Aku bisa melihat sebuah sisir warna hijau tua bergigi lebar dan besar –besar juga sapu tangan yang terlipat rapi terselip diantara dompet kulit berwarna hijau kekuning – kuningan juga handphone yang pasti sudah habis pulsanya, tidak tahu harus berbuat apa ? Orang itu terlihat menangis histeris seraya menahan kedinginan. Iba hatiku melihatnya, entah apa yang terjadi , namun Aku seperti bisa merasakan apa yang mungkin sedang dialaminya.
Tangisannya tiba – tiba berhenti, Aku mencoba menyelidikinya, wajahnya terlihat bingung, tangan kirinya meraba – raba bagian atas box telepon umum yang sedang dipakainya, entah apa yang Dia cari , namun kemudian tangan kanannya meletakkan gagang telepon ke tempatnya kembali sambil memukul – mukul telepon. Selang tak kurang dari 5 detik selembar kertas kecil berukuran kira – kira 10 x 10 cm jatuh ke bawah tepat 20 cm dari sepatu warna putih ADIDAS yang Aku pakai. Tangan kanan dan kirinya sibuk mengobrak – abrik tasnya, kemudian kulihat Dia mengeluarkan dompetnya menjungkirkan dan menggoyang – goyangkannya. Aku sangat yakin pasti koinnya sudah habis.
Dan Aku lihat dari raut wajah pilunya, pasti Dia masih ingin menelepon orang yang tadi diteleponnya. Sudah jam setengah sebelas malam , di sepanjang jalan ini tidak ada wartel yang buka, walau se
benarnya ada sebuah wartel yang buka 24 jam , tapi hujan – hujan begini Aku yakin penjaganya lebih memilih menikmati kehangatan selimut yang melebar diatas tempat tidur, diiringi melodi rintik air yang menari dan derai hujan yang bernyanyi, lagian wartel itu jauh dari tempat ini , harus jalan kaki kira – kira 100 m.
Disana hanya ada Kami berdua, Aku baru saja makan malam diwarteg Mak Inung dekat sini , Dia tukang nasi langgananku . Seperti biasa Aku selalu minta tukar uang receh, sengaja Aku bawakan buat adik angkatku yang gemar sekali mengisi boneka ayam yang terbuat dari tanah liat. “Celengan” begitulah Dhika menyebutnya.
“Yah…. besok nggak usah ngasih makan ayam Kamu dulu ya Dhika !” sesalku dalam hati.
Segera Aku rogoh sakuku dan kuberikan segenggam uang recehku kepadanya.
“ Ini , lanjutin aja biar Mbak bisa lega” .
Aku nggak tahu ,
benar nggak yang Aku lakukan. Yang jelas, Aku hanya mencoba membantu orang yang mungkin membutuhkan pertolongan.
Aku terkejut “Ya ampun !“ dengan cepat sekali Dia merauk uang receh dari telepak tangan kananku yang menjulur hingga kira – kira 15 cm pas di depan dadanya. Dia kemudian bergegas mengangkat gagang teleponnya, memencet nomor dan ……… Rupanya ada yang salah dari kombinasi nomor yang dipencet olehnya. Mungkin suasana hatinya yang begitu terpuruk membuatnya sebegitu terpukulnya Dia, sehingga lupa dengan semuanya, bahkan nomor telepon yang baru saja dihubunginya pun tak bisa lancar dipencetnya.
“ Oh ya !!!“ Aku segera membungkuk dan memungut kertas yang jatuh didepan sepatuku , meskipun sudah basah dan agak kotor terkena lumpur dan air hujan namun nomor yang ada masih bisa terbaca oleh mataku yang sudah pedih sekali karena terlalu lama membuka kacamata, maklum mataku pakai lensa silinder dua – duanya, selain itu tulisannya memang besar – besar jadi mudah bagiku membacanya. Aku langsung memberikan kertas kecil itu kepadanya dan diapun mengambilnya dengan sangat cepat dan melanjutkan percakapannya kembali.
Aku nggak tahu , mungkinkah Dia mempunyai
bendungan air mata ? Sudah lebih dari tiga puluh menit kalau dihitung mulai dari pertama kali Dia menangis kemudian berhenti dan melanjutkannya kembali .
“Dia mengeluarkan airmata yang banyak “ kataku dalam hati , namun Dia masih bisa melanjutkan tetesan air matanya, “Semoga Dia tidak kehabisan air mata “.
Aku berfikir, mungkinkah Dia menelepon orang yang salah ? Karena dari tadi kulihat Dia tidak berhenti menangis, dan pasti orang yang diteleponnya itu tidak bisa membantunya menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya. Aku yang sudah berdiri 15 menit lebih dulu menunggu Bus di Halte melihat gerak geriknya mulai dari Dia datang sampai dengan sekarang. Entah siapa yang ditelefonnya ? Percuma saja Dia menghabiskan koin sebanyak itu kalau yang ditelefonnya orang yang salah.
Wanita yang kira – kira berumur 2 tahun diatasku itu, masih mengisakkan nafas tangisnya, Aku melihatnya memasukkan koin yang Aku berikan satu persatu sambil menggigil kedinginan. Dia mengenakan kaos yang agak ketak berwarna putih dan jeans belel warna baby blue yang sudah dibasahi hujan, ingin rasanya Aku melepaskan jaketku dan menyelemutinya agar Dia tidak terlalu menggigil. Tapi siapa Aku dan siapa Dia ? Kita baru saja bertemu dan belum mengenal satu sama lain.
Sepertinya Dia sudah selesai menelepon , meskipun Dia masih menyisakan uang receh yang tadi kuberikan dalam genggamannya. Dia kemudian lari lewat depan mukaku menuju bagian tengah bangku halte,duduk dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Aku ragu menyapanya , Aku takut dikira sok kenal. Tapi Aku lebih takut kalau Aku dikira orang jahat yang hanya pura – pura menolongnya dan akan menyakitinya kemudian. Pikiranku melayang terbang kemana – mana , disatu sisi Aku ingin menyapanya dan disisi lain Aku ketakutan kalau – kalau Dia berfikir yang tidak – tidak tentang Aku.
“ Ya Tuhan !!” Dia belum berhenti menangis, nafasnya sangat tersiksa , bagaikan orang Asma yang sedang kambuh , terisak – isak pendek kemudian menarik nafasnya dengan berat sekali sambil memegangi dahinya. Aku bagaikan bisa merasakan apa yang sedang dialaminya, hatiku ikut menyanyikan isak tangisnya , bahkan perasaanku hampir tak dapat Aku sembunyikan, Aku mungkin ikut meneteskan air mata , namun air hujan membantuku menyembunyikannya.
Hatiku terus bertanya “ Sapa atau nggak ya ?” , dan Aku juga seperti orang gila , dari tadi kepalan tangan kananku memukul – mumukul telapak tangan kiriku dan Aku berbolak – balik badan seperti orang yang sedang kebingungan. Sungguh, kalau diibaratkan film kartun , sudah ada tanda tanya besar diatas kepalaku dan juga beberapa bintang yang berputar – putar mengelilinginya. Kenapa Aku jadi bingung ya ?????????
Akhirnya Aku memberanikan diri untuk menyapanya . Aku nggak peduli apa pendapatnya nanti tentang Aku.
Aku mulai mendekatinya perlahan namun sebelum Aku mencapai sebelahnya ,cahaya lampu mobil menyilaukan pandangan dari arah sebelah kananku , kulihat nomornya ternyata itu Bus jurusan terminal yang rutenya melewati rumahku. Kebingunganku semakin menjadi – jadi, haruskah Aku naik bus itu ? Soalnya itu bus jurusan terminal terakhir malam ini, tapi apakah Aku harus tega membiarkan seorang gadis sendirian di halte Bus sementara Dia mungkin membutuhkan bantuanku? Atau Aku harus membiarkannya karena toh Kita belum saling kenal , siapa tahu gadis itu hanya datang ke halte ini untuk menelepon dan tidak untuk menunggu bus atau mungkin Dia hanya ingin berteduh saja sambil menunggu hujan reda, atau mungkin juga rumahnya hanya deket sini saja.
“Ah… kalau hanya sekedar ingin berteduh, kenapa tangisannya tidak urung berhenti?” tanya dalam hati.
Bus itu berhenti tepat didepan Kami berdua “ Tawang , Tawang , Tawang terakhir , Tawang”, suara kondektur itu terasa mamanaskan kupingku.
“Naik ?, nggak?, naik? , nggak? , naik?, nggak?”. Aku menggelengkan kepala, kemudian bus itu melaju cepat menjauh dari hadapanku. Sungguh , Aku merasa terbebas dari kebingunganku.
Sesaat kemudian, “Ya ampun apa yang Aku lakukan ? Kenapa Aku membiarkan Bus itu begitu saja tanpa membawaku pergi ?”.
Aku langsung terduduk lemas diujung sebelah kiri bangku halte. Aku hnaya menunduk sambil menutup mukaku dan terdiam. Sejenak kemudian Aku teringat kalau disebelahku ada seorang wanita yang masih menangis sampai sekarang.
Aku teringat nasehat neneku dulu , “Jangan menolong orang setengah – setengah !”. Sudah terlanjur kepalang ajar kataku, Benar juga kata nenek , Aku nggak peduli dan segera mendekatinya dan menyapanya. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya dan entah kenapa mulut terasa terkunci sehingga susah sekali untukku mengatakan sesuatu. Tapi Aku terus mencobanya dan Akhirnya Aku bisa mengucapkan kata – kata .
“Ada apa sih Mbak ?”, walau hanya kata itu yang terucap dari mulutku tapi wanita itu menolehkan wajahnya kearahku. Aku yang duduk kira kira 1 meter disebelah kirinya kaget melihat matanya yang sudah demikian sembabnya dan bibirnya yang kian membiru terbawa dinginya malam dan hujan. Namun Dia tidak memberikan reaksi apa – apa, Dia kembali menutup wajahnya dengan kedua matanya.
“Mbak lagi ada masalah ?”. Dia menggelengkan kepalanya sembari mengisakkan tangisnya.
“Tapi kenapa Mbak tidak berhenti menangis? Jangan khawatir Mbak! Saya bukan orang jahat !”. Wanita itu masih saja tidak menjawab dan justru menambah volume suara tangisannya. Jelas saja Aku kaget, “ Mbak… Mbak kenapa , ceritakan saja Mbak ! Siapa tahu Saya bisa membantu ?”.
“Kamu nggak akan tahu bagaimana perasaan seorang wanita yang sudah terenggut kesuciannya dan kini orang yang telah mencurinya itu justru memilih perempuan lain. Dasar Laki – laki, semuanya memang biadab.”
Aku hanya tertunduk tanpa tahu harus ngomong apa, karena wanita itu seperti sudah membungkam mulutku.
“Teruskan saja Mbak, Kalau dengan menangis Mbak bisa lega, suara hujan ikut merintih kok menemani. Tapi Mbak, orang tidak hanya merasa senang karena Dia bisa membagi kebahagiaanya. Justru dengan membagi kesedihan, hal itu akan membuat hatinya sedikit lega dan bebannya sedikit berkurang, da..n, da….n, i… i.. itu juga bisa membuat orang senang lho Mbak” kataku ragu.
“Tahu apa Kamu tentang kesedihan !” suaranya melantang.
Lagi – lagi mulutku bagai dibekap oleh setiap kata yang diucapkannya, tegas dan lugas.
“Bisa bantu apa Kamu ? Paling juga cuma nambahin beban Aku aj! Sudahlah!” lanjutnya ketus.
Terlihat dari raut mukanya, wanita tidak tahan dengan sengatan dinginnya hujan malam ini. Aku melepaskan jaketku dan menyelimuti tubuh mungilnya, meski sempat menolak namun akhirnya Dia mau memakainya.
“Saya memang bukan psikolog dan juga bukan dokter. Tapi justru Saya adalah pasiennya”.Wanita itu sedikit menengok ke arahku dan mulai memperhatikan kata – kataku.Aku mulai mem
benahi posisi dudukku sambil menahan dinginnya malam itu dengan kedua tanganku.“Saya yang dilahirkan tanpa tahu siapa Ayah Saya, sudah ditinggalkan ibu sejak kecil. Ibu Saya frustasi”.Aku terbayang oleh cantiknya wajah ibu dan mulai meneteskan air mata mengenang beliau.“Siapa juga yang tahan dihina, dicaci, dicibir dan tidak diterima oleh orang lain karena punya anak haram. Ibu Saya memang bukan wanita baik – baik. Kehidupannya dijalanan telah membuat Saya lahir kedunia ini tanpa ayah. Dan disaat ibu ingin menebus dosanya dengan menjadi orang baik justru mulut bejat mereka mengusir ibu Saya dari dunia ini. Dan itu adalah awal dari keterpurukan seorang anak berumur 11 tahun yang harus berjuang menghadapi hidup sendirian”. “Trus apa hubungannya dengan pasien dokter, Kamu bilang…” “Saya divonis mengidap kelainan darah sejak kurang lebih sembilan tahun yang lalu, Saya…………” kutimpali kata- katanya dengan cepat. “Saya pikir penderitaan Saya cukup dengan ditinggalkan oleh Ibu, tapi ternyata itu baru awal dari cerita kehidupan yang memang harus Saya jalani”. Kuhela nafas se
bentar.“Siapa sih yang akan tahan hidup bergantung sama obat ? Sekali saja terlewat maka bisa – bisa tiga minggu harus dirawat dirumah sakit. Minimal satu kali dalam satu bulan harus cuci darah. Belum lagi kalau salah makan dan kelelahan. Tapi… tapi…., tapi Saya tetap ingin bertahan. Lebih dari itu , Saya akan bertahan”.Wanita itu hanya tertunduk dan terdiam.“Sekarang jika seorang orang wanita yang hanya kehilangan bagian yang dianggap penting dari hidupnya itu ,Dia sudah putus asa dan bahkan menganggap dunia ini tidak adil Saya rasa itu berlebihan”.Wanita itu terlihat menangis terisak.“Sementara Saya yang jelas – jelas sudah kehilangan hidup Saya saja masih ingin bertahan agar tetap bisa hidup dan tidak mau membebani orang lain. Saya maklum kalau Mbak merasa sedih, tapi jangan putus asa Mbak. Justru disaat – saat seperti inilah, Mbak akan tahu betapa Tuhan itu sayang sama Kita. Dan Betapa Kita itu sangat membutuhkanNya”.Wanita itu tercengang mendengar kata – kataku.“Coba Mbak fikir, apa mungkin Tuhan memberikan Kita cobaan seperti ini tanpa ada maksud tertentu ? Nggak mungkin kan ?”“Semuanya sudah terjadi, sekarang ini jangan membebani dengan masa lalu Kita. Tentukan apa yang akan Kita lakukan untuk hidup Kita besok pagi. Jangan hanya menyesal dan berdiam diri Mbak. Hari ini Kita punya malam dan Kita harus menjemput esok pagi”Aku yang kelelahan bercerita merasa tubuhku lunglai tak berdaya. Entah kenapa badanku mendadak begitu dingin, tangan dan kakiku lemas dan tidak bisa digerakkan. Tubuhku menggigil, mataku kunang – kunang dan Aku seperti sudah tak ingat apa – apa lagi.******“Kakak menceritakan semuanya kepadaku di Rumah Sakit tentang apa yang terjadi di Halte malam itu. Dan sebelum Dia meninggal, Dia sempat menitipkan sesuatu kepadaku, Kakak berpesan kepadaku agar membuka dan membaca surat ini saat Aku sudah dewasa dan sekarang ini di hadapan mendiang Kakak Aku ingin membacanya. Kita buka ya ?” . Dhika segera membuka amplop yang dikeluarkan dari saku kemejanya.
Jakarta 09 September 1996Dhika, saat Kamu baca surat ini kalau kakak nggak salah hitung Kamu sudah berumur tujuh belas tahun ya? Aku ucapkan selamat ulang tahun buat Kamu. Kakak nyuruh Kamu baca surat ini saat Kamu sudah dewasa karena dulu waktu Kakak pergi Kamu masih terlalu kecil untuk mengerti. Dan Kakak harap Kamu sudah cukup akal untuk mengerti ini semua.Pagi itu akan datang bila malam telah melepaskan dinginnya, menggantinya dengan sejuk dan hangat sinar mentari . Dan hidup itu dimulai bukan saat Kamu membuka mata Kamu waktu bangun, tapi justru sebelum Kamu tidur.Kamu tahu artinya Dhika ?Kamu harus menjemput pagimu, jangan Kamu hanya mengikuti dekapan dan pelukan malam sampai pagi membangunkanmu.Apa yang akan Kamu lakukan esok hari seharusnya sudah ada dalam anganmu sebelum Kamu tidur. Dan jika Kamu tidak tahu apa yang akan Kamu lakukan esok, berarti Kamu tidak ingin hidup besok pagi.Dhika, Kamu tahu kan maksud kakak ?Meskipun Kakak sudah nggak ada, semoga saja Kamu selalu inget pesan kakak. Saat Pagi datang Jangan pernah lupa, Kamu masih punya Siang hari.Namun Saat Pagi sudah pergi Jangan khawatir, Kamu masih punya Siang hari.Lalu Saat Siang datang Jangan pernah lupa, Kamu masih punya Malam hari.Dan Saat Siang pergi meninggalkan Jangan khawatir, Kamu masih punya Malam hari.Kemudian Saat Malam beranjak pergi Jangan khawatir, Kamu masih punya esok hari.Dan ketika Malam itu datang kepadamu,Jangan pernah lupa untuk menjemput esok Pagi.Dhika, hidup itu adalah berencana dan menjalani. Melewati semua yang memang seharusnya Kita lewati. Saat ini, Kamu sudah punya pacar ?Jangan lupa Dhik, Kamu punya Pagi, Siang, Malam yang semuanya harus Kamu jalani.Jangan melalaikan satu diantaranya. Kamu harus menghargai setiap apapun yang Tuhan telah hadirkan dalam hidup Kamu. Entah itu pagi yang mendung, siang yang terlalu menyengat ataupun malam yang terlalu dingin. Dan bila Kamu belum menemukan tambatan hatimu, Ingatlah Kamu itu masih punya Pagi, Siang dan Malam yang meski Kamu jalani. Kamu ngerti ?…….Dan Bila kamu belum menemukan Pagi, Siang dan Malam yang Kau inginkan, masih ada Pagi, Siang dan Malam berikutnya. Itu saja Dhik pesan dari Kakak. Salam Sayang dari Kakak“Kalian berdua kesini ?”Mbak Sarah dan Mas Anton datang bersama Reno dan Reni. Mas Anton memang lelaki yang paling baik yang pernah Aku kenal setelah Kak Arga. Mbak Sarah yang Aku temui dirumah sakit waktu Kak Arga dirawat setelah kejadian malam itu, menceritakan apa yang terjadi kenapa Kak Arga bisa terjatuh pingsan. Dua hari Kak Arga dirawat namun Tuhan berkehendak lain. Keinginannya untuk tetap hidup memang begitu kuatnya sampai – sampai Aku masih bisa merasakan Kak Arga masih bersama Kami saat ini.Selesai ziarah, Aku, Intan, Mbak Sarah, Mas Anton, Reno dan Reni meninggalkan makam sekitar pukul empat sore.